Gunung Sempu
Thank You for Comments Pictures

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label FIQIH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FIQIH. Tampilkan semua postingan

Tiga Keadaan Mengenai Ruqyah

Written By Unknown on Selasa, 30 Oktober 2012 | 16.44

1, Org yg meminta untuk diruqyah
Orang seperti ini ditakutkan tidak termasuk dalam sabda Nabi -alaihishshalatu wassalam- yg menjelaskan kriteria 70.000 orang dari umatnya yang akan masuk surga tanpa hisab dan azab:

هُمْ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta untuk di ruqyah, tidak pernah bertathayur (menganggap sial/pamali) dan tidak pula melakukan terapi dengan kay (terapi dengan menempelkan besi panas pada daerah yang sakit), dan hanya kepada Rabb mereka bertawakkal.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)


Keutamaan Sepuluh Hari Dzulhijah

Written By Unknown on Rabu, 17 Oktober 2012 | 20.20



Keutamaan sepuluh hari dzulhijah
1- أن الله تعالى أقسم بها : وإذا أقسم الله بشيء دل هذا على عظم مكانته وفضله، إذ العظيم لا يقسم إلا بالعظيم، قال تعالى )والفجر، وليال العشر) . والليالي العشر هي عشر ذي الحجة، وهذا ما عليه جمهور المفسرين والخلف، وقال ابن كثير في تفسيره: وهو الصحيح.
1.
-Allah subhanahu watala bersumpah dengannya: dan apabila Allah bersumpah dengan sesuatu menunjukan bah
wa sesuatu tersebut atas keagunganya dan kedudukanya dan kemuliaanya, jadi Allah tidak bersumpah kecuali dengan yang agung, Allah berfirman: demi fajar, dan demi sepuluh hari (Al fajr 1-2) sepuluh hari yag dimaksud dalam ayat ini adalah

Siapa Bilang Pacaran Harom ????

Written By Unknown on Rabu, 10 Oktober 2012 | 20.48



Bismillahirrohmanirohim.....
Pacaran memang sudah membudaya di negeri kita dan di zzaman ini, sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa orang yang tidak punya pacar seperti orang yang asing, tapi itulah islam yang akan menjadi asing pada akhirzaman ini. Namun bagaimana pandangan islam terhadapa pacaran??? . Disini saya akan menjelaskan tentang hukum pacaran dalam pandangan islam, karna beberapa hari kemaren saya dikagetkan dengan seorang yang menjalani study di ma’had bertanya kepada saya tentang hukum pacaran dalam islam.
Dalam pandangan islam pacaran adalah sebuah perbuatan yang di haromkan karna akan menjerumuskan seseorang pada perzinaan, sebagaimana firman Allah azza wa jalla:  

Beberapa Amalan Sunnah di Hari Raya Iedul Adha

Written By Unknown on Senin, 08 Oktober 2012 | 03.10




Mandi
عَنْ مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى
“Dari Malik dari Nafi’, ia berkata bahwa Abdullah bin Umar dahulu mandi pada hari Idul Fitri sebelum pergi ke mushalla (lapangan).” (Shahih, HR. Malik dalam Al-Muwaththa` dan Al-Imam Asy-Syafi’i dari jalannya dalam Al-Umm)

.:: Hukum Menyingkat Sholawat dengan SAW ::.

Written By Unknown on Minggu, 07 Oktober 2012 | 19.24


Dalam kitab Manhaj Dzawin Nazhor syarh Alfiyatil Atsar lil Imam As Suyuthi karya Syaikh Muhammad Mahfuzh bin 'Abdulloh At Tirmisi disebutkan sebagai berikut:

"[Dan janganlah kamu] waha penulis, [menulisnya dengan rumus (singakat)] yaitu yang disebut di atas (pujian kepada Alloh, sholawat kepada Nabi, dan doa kepada ulama). Terlebih lagi (pujia

n kepada Alloh dan) sholawat & salam, maka yang demikian itu makruh menyingkatnya dengan rumus dalam tulisan dengan satu atau dua huruf. Seperti orang yang menulisnya dengan "shol'am" (dalam versi Indonesia biasa ditulis SAW), akan tetapi (harus) ditulis dengan selengkapnya.

Konon ada yang mengatakan, bahwasannya orang yang pertama kali merumuskannya dengan "shol'am" (SAW), dipotong tangannya."*

Lihatlah saudaraku -semoga Alloh mengampuni saya dan Anda- pernyataan terakhir ini, yaitu hukuman bagi pelaku tindakan menyingkat pujian kepada Alloh seperti Subhanahu wa Ta'ala dengan SWT & sholawat serta salam kepada Nabi Muhammad dengan SAW.

Sungguh, orang yang suka menyingkat-nyingkat ungkapan ini menunjukkan kadar cintanya yang lemah -kalau tidak mau dikatakan tidak ada- kepada Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, meski ia mendakwakan cinta. Dakwaan mereka ini ia bantah sendiri dengan perbuataannya ini.

Perlu diketahui bahwa tidak akan pernah rugi orang yang selalu bersholawat kepada Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, bahkan orang tersebut akan memperoleh pahala & ganjaran yang banyak.

Dalam sebuah kesempatan, Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang bersholawat kepadaku dalam buku, Malaikat akan memintakan ampun untuknya selama namaku masih ada dalam buku itu."

Tentang hadits ini, Imam As Suyuthi berkata, "Meski hadits ini dha'if, namun ia patut disebutkan dalam makna (mas-alah) ini, dan tidak usah digubris Ibnul Jauzi yang memasukkannya dalam Al Maudhu'at. Sesungguhnya ia mempunyai thuruq (jalan-jalan hadits) yang menyelamatkannya dari kemaudhu'an dan menuntut secara globa ia memiliki asal."*

Rosululloh juga bersabda, "Perbanyaklah kalian bersholawat kepadaku. Karena Alloh menugaskan malaikat di sisi kuburku, apabila seorang dari umatku bersholawat kepadaku, Maka malaikat itu berkata kepadaku, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya saat ini fulan bin fulan bersholawat kepadamu." [Riwayat Ad Dailami. Dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shohihah (IV/44)]

Jadi, buktikan bahwa ketika Anda mengatakan, "Aku cinta Nabi," dengan sikap & perilakumu, dalam hal ini menulis sholawat secara lengkap dan tidak disingkat-singkat!
_____________
* Manhaj Dzawin Nazhor syarh Manzhumah 'Ilmil Atsar (hal. 179), karya Syaikh Muhammad Mahfuzh bin 'Abdillah bin 'Abdul Mannan At Tirmisi. Cet. th. 1424H/2003 M. Darul Kutub Al 'Ilmiyyah Beirut.

Ket.:
[]= perkataan Imam As Suyuthi
()= tambahan yang sesuai dari saya
Firman Hidayat, 07 Oktober 2012, Gunung Sempu

Luruskanlah Shof,,,,

Written By Unknown on Selasa, 02 Oktober 2012 | 07.06


Dari Anas bin malik semoga Allah meridhoinya beliau berkata: Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda: "Luruskanlah shof shof kalian, karna kelurusan shof shof itu termasuk kesempurnaan sholat".(Ahmad dalam musnat Al mukhtsirin 12348, Muslim dalam asholat 433)
dari hhadits di atas dapat kita simpulkan, bahwa nabi shollallahu alaihi wasallam memmerintahkan untuk meluruskan ahof, dan agar merapatkan shof dalam sholat, sehingga titak ada syetan yang masuk di sela sela shof yang kosong. Dan Rosulullah juga memberikan faidah yang di dapat ketika kita meluruskan shof, yaitu menunjukan bahwa meluruskan dan merapatkan shof adalah sebagian dari kesempurnaan  dalam sholat. dan sekiranya shof tidak lurus maka itu akan mengurang kesempurnaan pahala sholat jamaah.
Pelajaran yang bisa kti ambil:

  • di syariatkan meluskan dan merapatkan shof, yaitu dengan meluruskan tumit mereka satu sama lainya
  •  meluruskan shof adalah sebab dari kesempurnaan sholat maka yang demikian itu sangat di anjurkan sebagaiman mazdhab jumhur, dan ada pula yang mengatakan wajib dengan dalil: Dari nu'man bin bashir semoga Allah meridhoikeduanya beliau berkakat: aku mendengar Rosulullah bersabda:"Hendaknya kalian meluruskan shof shof kalian atau Allah akan menimbulkan perselisihan di antara kalian"(HR, Bukhari 717)
  • makruh bagi oraang yang tidak meluruskan shof karna demikian itu akan mengurangi pahala sholat
  • keutaman sholat jamaah, karna pahala kesempurnaan sholat dengan meluruskan shof hanya dapat di peroleh bagi orang yang sholat jamaah
  • di katakan bahwa meluskan shof itu menyerupai malaikat sebagaimana sabda Rosulullah yang di keluarkan oleh muslim dari jabir: "sekiranya kalian meluruskan shof sebagaimana para malaikat meluruskan shof di sisi Rob mereka" maka kami bertanya: ''wahai Roosulullah bagaimana para malaikat meluruskan shof mereka di sisi Robnya? Rosulullah menjawab: "mereka menyempurnakan shof yang paling depan kemudian mereka merapatkanya"
Ditrjemahkan dari kitab taisirul alam sarth umdatul ahkam Wallahu a'lam bishowab

Khandar, April 2012, Jakarta

LARANGAN ISBAL TIDAK HANYA KARENA SOMBONG..

Written By Unknown on Sabtu, 29 September 2012 | 18.58


Yang menjadi sebab dilarangnya isbal bukan hanya karena sombong, artinya kalau tidak sombong boleh Isbal, bukan demikian. Karena di sana ada hadits (berkenaan larangan isbal ) yang berifat mutlak (umum) dan khusus.

Diantara hadits berkenaan larangan isbal yang bersifat umum (baik karena sombong, maupun tidak sombong) adalah hadits berikut :

[] عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ :مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ فَفِي النَّارِ (رواه البخاري )

Dari Abu Hurairah, dari Nabi- beliau bersabda :"Apa saja yang di bawah mata kaki maka di neraka"

Al-Khattabi menjelaskan, "Maksudnya, bagian kaki yang terkena sarung yang di bawah dua mata kaki di neraka (bukan sarungnya-pent).

Kemudian Hadits yang bersifat khususnya ( larangan Isbal terikat karena Sombong ) aadalah hadits berikut :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ قَالَ :" ثَلَاثَةٌ لا يُكَلِّمُهُمُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلا يُزَكِّيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلٍيْمٌ",قَالَ :فَقَرَأَهَا رَسُوْلُ اللهِ ثَلاثَ مِرَارٍ .قَالَ أَبُوْ ذَرٍّ :"خَابُوا وَ خَسِرُوْا. مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ :"المُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلْفِ الْكَاذِبِ"

Dari Abu Dzar dari Nabi, beliau bersabda :"Tiga golongan yang tidak akan diajak komunikasi oleh Allah pada hari Kiamat dan tidak dilihat dan tidak (juga) disucikan dan bagi mereka adzab yang pedih. " Abu Dzar menceritakan, "Rasulullah mengulanginya sampai tiga kali. ", "Sungguh merugi mereka, siapakah mereka wahai Rasulullah ?" tanya Abu Dzar. Nabi menjawab: "Orang yang isbal, orang yang mengungkit-ngungkit sedekahnya dan penjual yang bersumpah palsu." (HR Muslim I/102 no 106)

KESIMPULANNYA DARI HADITS2 DI ATAS

Jika seseorang Isbal karena Sombong , maka ia diganjari dengan 4 hukuman :
1.Allah tidak berbicara dengannya pada hari Kiamat,

2.tidak melihatnya (yaitu pandangan rahmat),

3.tidak menyucikannya

4.serta mendapat adzab yang pedih.

Inilah empat balasan bagi orang yang menjulurkan pakaiannya karena sombong.

Adapun bagi seorang yang Isbal tidak disertai sombong, maka hukumannya lebih ringan, yaitu bagian bawah mata kakinya akan disiksa dengan api neraka.

Dalam hadits Abu Hurairah di atas, Nabi bersabda: (Apa yang dibawah mata kaki maka di neraka). Nabi tidak menyebutkan kecuali satu hukuman saja.
Juga hukuman ini tidak mencakup seluruh badan, tetapi hanya khusus tempat isbal tersebut (yang di bawah mata kaki). Jika seseorang menurunkan pakaiannya hingga di bawah mata kaki ,maka dia akan dihukum (bagian kakinya) dengan api neraka sesuai dengan ukuran pakaian yang turun dibawah mata kaki tersebut.
(Anda bisa mendapatkan penjelasan ini di Syarah Riyadhus Sholihin 2/522-523, Syaikh Utsaimin -rahimahullah-)

Karena hukuman di neraka itu ada 2 macam : Hukuman yg meliputi seluruh badan dan hukuman yg meliputi bagian badan saja. Diantara hukuman yg meliputi sebagian badan adalah siksaan api neraka terhadap bagian bawah tumit yg terjulur pakaian.

Anda tidak perlu heran dengan masalah ini , karena Rasulullah -shallahualaihiwasallam- pernah bersabda :
وَيْلٌ لِلأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ (متفق عليه)

“Mendapat celaka dari neraka bagi tumit-tumit (yang tidak terkena air)” (Dari Abu Hurairah, ‘Aisyah dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Muttafaqun ‘alaihi)

Disebutkan dalam hadits Ibnu Umar

Ibnu Umar bercerita, "Saya melewati Rasulullah dan sarungku isbal, maka Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam berkomentar: "Wahai Abdullah, angkat sarungmu!". Aku pun mengangkatnya. "Angkat lagi!",kata beliau lagi. Maka aku pun tambah mengangkatnya. Setelah itu, aku selalu memperhatikan sarungku (agar tidak isbal)". Sebagian orang menanyakan: "Sampai mana (engkau mengangkat sarungmu)?". Ibnu Umar menjawab: "Hingga tengah dua betis" (HR: Muslim 5429)

Dalam hadits tersebut, Rasulullah memerintahkan Ibnu Umar untuk mengangkat pakaiannya, dan Rasulullah sebelumnya tidak bertanya kepada Ibnu Umar ''apakah kamu Isbal karena Sombong atau tidak sombong..? "

Mengapa mereka tidak meninggalkan isbal tersebut demi mengikuti perintah Nabi shallallahu 'alihi wa sallam kepada Ibnu Umar (untuk mengangkat sarungnya) ataukah hati mereka lebih suci dari isi hati Ibnu Umar?!, bahkan sungguh disayangkan, justeru mereka menghina org2 yg berusaha berpakaian sesuai sunnah Rasulullah -shallallahualaihiwasallam- .
Astaghfirullah

BANTAHAN SYUBHAT

1. Seringkali kita dapati, orang-orang yang hobi dengan Isbal, mereka berdalil dengan kisah Abu Bakr untuk melegalkan perbuatannya, berikut redaksi kisahnya

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ قَالَ : مَنْ جَرَّ ثَوْبَهُ خُيَلاَءَ لَمْ يَنْظُرِ اللهُ إِلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, قَالَ أَبُوْ بَكْرٍ : يَا رَسُوْلَ اللهِ, إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي إِلَّا أَنْ أَتَعَاهَدَ ذَلِكَ مِنْهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ : لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُهُ خُيَلَاءَ

Dari Ibnu Umar, dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam, beliau bersabda, " Barang siapa yang menyeret pakaiannya (di tanah) karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari Kiamat.", Abu Bakar mengeluh "Wahai Rasulullah, sesungguhnya salah satu sisi sarung (pakaian bawah)ku (MELOROT) turun (melebihi batas mata kaki) kecuali kalau aku (senantiasa) menjaga sarungku dari isbal". Nabi shallallahu 'alihi wa sallam mengatakan :"Engkau bukan termasuk yang melakukannya karena sombong." (HR Al-Bukhari no 5784)

Kita katakan kepada orang tersebut:
" mohon anda perhatikan kata-kata dalam hadits di atas, di sana tertulis (يَسْتَرْخِي) ''melorot'' bukan ''memelorotkan diri''
Jika anda berisbal ria, dengan belasan kisah Abu Bakr di atas, sejatinya anda ''memelorotkan diri'' bukan ''melorot tidak sengaja"

2. Ada juga yang mengatakan :
"saya isbal bukan karena sombong , sebagaimana Abu Bakr..Saya dan Abu Bakar memiliki kedudukan sama di depan hukum Allah, apa yang boleh bagi Abu Bakar maka boleh juga bagi saya. Kalau Abu Bakar boleh untuk isbal tanpa sombong maka saya pun juga boleh melakukannya..''

maka jawabannya ;

Ibnu Hajar menjelaskan :"Sebab isbalnya sarung Abu Bakar adalah karena tubuhnya yang kurus". (Fathul Baari 10/314)

Ibnu Hajar menambah, "Pada riwayat Ma'mar yang dikeluarkan oleh Imam Ahmad (redaksinya):

إِنَّ إِزَارِي يَسْتَرْخِي أَحْيَانًا

Sesungguhnya sarungku terkadang turun (melorot)." (Fathul Baari 10/314)

Abu Bakar adalah orang yang kurus, jika beliau bergerak, berjalan atau melakukan gerakan yang lainnya, pakaian bawahnya (izar), melorot turun tanpa disengaja. Namun jika beliau menjaga (memperhatikan) sarungnya maka tidak menjadi turun.

 

Hadits ini menunjukan bahwa secara mutlak, tidak masalah, sarung yang terjulur di bawah mata kaki kalau tanpa sengaja (Fathul Baari 10/314), sebagaimana Rasulullah pernah mengisbal sarung beliau tatkala tergesa-gesa untuk shlolat gerhana matahari. Abu Bakroh menceritakan:

خَسَفَتِ الشَّمْسُ وَنَحْنُ عِنْدَ النَّبِيِّ, فَقَامَ يَجُرُّ ثَوْبَهُ مُسْتَعْجِلاً حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ

"Terjadi gerhana matahari dan kami sedang berada di sisi Nabi, maka Nabi pun berdiri dalam keadaan mengisbal sarung beliau karena tergea-gesa, sampai memasuki masjid." (HR Al-Bukhari no 5785)

Ibnu Hajar berkesimpulan, "Pada hadits ini (terdapat dalil) bahwa isbal (yang muncul) dengan alasan ketergesaan tidak termasuk dalam larangan" (Al-Fath 10/315) (sumber : www.firanda.com)

Ada beberapa point untuk mencounter orang yang bepegang erat dengan hadits Abu Bakar:

1. Sangat tepat bahwa anda dan Abu Bakar sama kedudukannya di mata hukum, apa yang menjadi dispensasi bagi Abu Bakar juga berlaku bagi saudara. Akan tetapi, apakah isi kalbu anda sama persis dengan yang terdapat dalam hati Abu Bakar??!!.

2. Abu Bakar kita pastikan tidak sombong karena ada nash sharih dan persaksian dari Nabi shallallahu 'alihi wa sallam bahwasanya Ash-Shiddiq tidak sombong. Kalau saudara bisa menghadirkan persaksian Nabi bahwa saudara bebas dari kecongkakan saat berisbal-ria, maka kami sami'na wa atha'na. Bahkan Syaikh Utsaimin sendiri menantang: "Jika kami mengingkarimu maka silahkan kau potong lidah kami". Namun ini mustahil, bagaimana mungkin anda membawakan mendatangkan persaksian Rasulullah. (Syarh Al-Ushul min 'ilmil ushul 335)

3. Isbal yang terjadi pada Abu Bakar bukan karena faktor kesengajaan. Beliau bahkan menghindarinya, namun karena beliau orang yang tidak berbadan gemuk, akibatnya pakaian bawah beliau melorot turun di bawah mata kaki. Adapun anda, sengaja melakukannya, bahkan kepada penjahit, anda menginsruksikan "panjangkan celanaku (sekian),", "turunkan celanaku (sekian)".

4. Anggaplah argumentasi anda itu benar bahwa isbal tanpa kesombongan tidak bermasalah, namun secara implisit, jika saudara sedang isbal berarti saudara sedang memproklamirkan diri bahwa saudara bukanlah orang yang sombong tatkala sedang berisbal. Padahal Allah berfirman : فَلا تُزَكُّوْا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى . Artinya: "Maka Janganlah Kalian mentazkiah diri kalian, Allah lebih tahu siapa yang bertaqwa"

5. Berkaitan dengan kisah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu, tidak ada satu riwayat pun yang menceritakan, usai mendengarkan pernyataan Rasulullah shallallahu 'alihi wa sallam tersebut di atas, lantas beliau ia berisbal ria sepanjang hari. Pada prinsipnya, riwayat tersebut menunjukkan bahwa pakaian bawah beliau tidak melewati mata kaki, akan tetapi tanpa disengaja turun, sehingga beliau harus menariknya kembali. Berbeda dengan mereka yang dari awal pakaiannya melebihi mata kaki, dengan demikian kisah Abu Bakar tidak bisa dijadikan sebagai pegangan. (sumber : www.firanda.com)

Ahmad Anshori
Gunung Sempu, ma'had Hamalatul Quran Jogjakarta, 22 September 2012
 
Support : Creating Website | |
Copyright © 2011. gunung sempu - All Rights Reserved
Template Created by Published by Khandar
Proudly powered by Blogger