Gunung Sempu
Thank You for Comments Pictures

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI ULAMA SALAFIYAH NUSANTARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BIOGRAFI ULAMA SALAFIYAH NUSANTARA. Tampilkan semua postingan

: Ketua & Penghulu Para Ulama Syarq Aqsha [Jawa / Asia Tenggara] di Tanah Haram; Al-'Allamah Muhammad Nur Al-Fathani Al-Jawi As-Salafi :

Written By Unknown on Senin, 01 Oktober 2012 | 19.36


1. Nasab & Kelahiran Al-Fathani
Beliau bernama lengkap Muhammad Nur bin Muhammad Shaghir bin Dawud Al-Jawi Al-Fathani Al-Makki Asy-Syafi'i As-Salafi seorang yang 'alim falaki (ahli falak) rahimahullah.
Mengenai di tahun berapa Syaikh Muhammad Nur Al-Fathani, s

elanjutnya saya sebut Al-Fathani saja, para muarrikh yang menyajikan biografi beliau berselisih pendapat. Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbar menetapkan pada tahun 1920 H, akan tetapi Syaikh Mirdad Abul Khair menetapkan th. 1920-an H di Makkah.

2. Pengembaraan Syaikh Muhammad Nur dalam Menuntut Ilmu
Syaikh Al-Fathani banyak menghabiskan waktunya dalam menuntut ilmu terutama di Masjid Al-Haram & Al-Azhar Mesir.

Kita persilahkan Syaikh 'Umar 'Abdul Jabbar menceritakan perjalanan Syaikh Al-Fathani dalam menuntut ilmu, "(Al-Fathani) mengawali studinya di tangan ayahnya, kemudian ia lanjutkan kepada Syaikh 'Abdul Haq -perintis Al-Madrasah Al-Fakhriyyah-, Syaikh 'Abid -mufti madzhab malikiyyah-. Stelah mendapatkan syahadah & diberi izin untuk mengajar, beliau memandang dirinya untuk menambah tagukkan ilmu & pengetahuan, maka mulailah ia bersafar ke Mesir dan masuk ke Al-Azhar. Di sana ia mengambil ilmu dari Syaikh Muhammad 'Abduh, Syaikh Bakhit, Syaikh Asy-Syarbini, sebagaimana menuntut ilmu haiat & tauqit dari Syaikh Hasan Zaid -penulis kitab 'Al-Mathla' As-Sa'id'-..." [Siyar wa Tarajim ha. 269]

Selanjutnya, Syaikh 'Abdullah Mirdad Abul Khair meriwayatkan dalam kamus tarajimnya, Nasyrun-Nur waz-Zuhar fi Tarajim Afadhili Makkah yang telah diikhtishar oleh Muhammad Sa'id Al-'Amudi & Ahmad 'Ali hal 474, "Ia (Al-Fathani) tumbuh di pangkauan abahnya, dan melawat ke Cairo dalam rangka menuntut ilmu. Di sana beliau mengambil ilmu dari sejumlah imam & ahli sanad (musnid), di antaranya adalah Syaikh Bakhit El-Hanafi, ia pandai dalam banyak disiplin ilmu, kemudian ia kembali ke Makkah dan diberi jabatan untuk mengajar & memberi faidah (kepada para penuntut ilmu)."

Syaikh Al-Fathani juga banyak mempelajari kitab-kitab karya Syaikhil Islam Ibu Taimiyyah dan muridnya, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, serta Syaikh Muhammad bin 'Abdul Wahhab sampai benar-benar matang. Akan tetapi buahnya tidaklah terlihat kecuali di masa Kerajaan Saudi Arabia. Karena baru di sini lah ia mendapatkan angin segar dan akal yang siap untuk menerima ajaran murni ini.

Dari sini dapat diketahui bahwa beliau adalah seorang Ahlussunnah yang beraqidah salafiyyah.

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Syaikh Al-Fathani beraqidah salafiyyah adalah keikutsertaan beliau dalam menandatangani dokumen nota kesepakatan Ulama Makkah dan Nejd dalam mas-alah tauhid yang dikemudian hari diberi judul 'Al-Bayan Al-Mufid fimattafaq 'Alaihi 'Ulama Nejd wa Makkah min 'Aqaid At-Tauhid'. Alhamdulillah, nota kesepakatan ini telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh saudara Fauzan bin 'Abdullah, ST dan diedit kembali oleh Ustadz 'Abdullah Zaen, MA lalu diberi judul 'Ulama Makkah dan Nejd Bersatu Padu Membela Tauhid dan Memerangi Kesyirikan' beliau juga sempat menerjemahkan kitab 'Al-Hadiyyah As-Saniyyah fil 'Aqidah As-Salafiyyah' karya Syaikh Sulaiman bin Sahman ke bahasa Melayu yang di kemudian hari, hukumah (Saudi) rela mencetak & membagi-bagikannya.

3. Mengajar & Karir Al-Fathani di Makkah
Setelah melalang buanang menuntut ilmu dari tangan para ulama dalam berbagai macam disiplin ilmu dan menjadi mahir dalam berbagai bidang, Syaikh Al-Fathani mulai mengadakan halaqah & mengajar di Masjid Al-Haram. Bahkan rumahnya pun seringkali menjadi tempat incaran para penuntut ilmu terutama dari Jawa (Asia Tenggara). Di antara pelajaran yang beliau sampaikan adalah tafsir Alquran, fiqih, dan tentu saja aqidah yang diyakini salafu shalih.

Ustadz 'Umar 'Abdul Jabbar mensifati pelajaran yang disampaikan Syaikh Al-Fathani dengan ungkapan yang jelas, uslub ala Al-Azhar, dapat menguasai qalbu-qalbu dengan penjelasannya bak 'sihir' & lisannya yang lincah. [Siyar wa Tarajim hal. 270]

Mengetahui kecukupan dan kegigihan Al-Fathani, Syarif Husain pun menunjuknya sebagai anggota Mudiriyyah Al-Ma'arif yang dikepalai oleh Syaikh Muhammad 'Ali Al-Maliki, lalu Sayyid 'Abdullah Zawawi dan kemudian Sayyid 'Abbas Al-Maliki.

Adapun di masa pemerintahan Saudi, karir Syaikh Al-Fathani semakin meroket. Di mana beliau ditunjuk sebagai ketua masyayikh (ulama) Jawa -sekarang Asia Tenggara-, dan kemudian anggota di Mudiriyyah Al-Ma'arif yang dikepalai oleh Sayyid Shalih Syatha lalu Syaikh Amin Fudah.

4. Karakteristik Jasmani & Akhlaq Syaikh Al-Fathani
"Adalah Syaikh Muhammad Nur Fathani berperawakan sedang, kurus, bersih (baca: tak berbuli) kedua pipinya, jenggotnya ringan (tidak terlalu lebat), tenang dalam berbicara, tenag dalam beraktifitas, dan juga tenag dalam mengajar," demikian riwayat yang disampaikan oleh Ustadz 'Umar 'Abdul Jabbar.

Mengenai akhlak yang dimiliki Syaikh Al-Fathani, maka para ulama telah memujinya. Beliau adalah seorang ulama yang berakhlaq mulia, meletakkan cinta pada tempatnya, tawadhu', amanah, ikhlas, dapat bekerjasama dengan baik, tidak pernah melupakan orang-orang yang pernah berjasa kepadanya, terutama para guru-gurunya.

5. Warisan-Warisan Syaikh Al-Fathani
¤ Keturunannya:
Al-Fathani dikarunia beberapa anak laki yang di kemudian hari menduduki kehakiman dan keguruan, yaitu:
1. Syaikh Yasin
2. Syaikh Ahmad
3. 'Abdullah

¤ Murid-Muridnya:
Sesungguhnya Syaikh Al-Fathani memiliki banyak murid dari berbagai jenis & tingkatan manusia terutama santri-santri Timur Jauh [Negeri Melayu]

¤ Karya Tulis Ilmiahnya
Di antara karya tulis ilmiah Syaikh Al-Fathani adalah sebagai berikut:
1. Terjemah Kitab 'Al-Hadiyyah As-Saniyyah fil 'Aqidah As-Salafiyyah' karya Syaikh Sulaiman bin Sahman rahimahullah
2. Terjemah matan fiqih 'Sulamul Mubtadi' karya kakek beliau, Syaikh Dawud Al-Fathani
3. Sebuah syarah kitab 'Sulamul Mubtadi' yang beliau beri judul 'Kifayatul Muhtadi syarah bagi kitab Sulamul Mubtadi'

6. Wafatnya Syaikh Al-Fathani Rahimahullah
Syaikh Al-Fathani wafat tahun 1363 H. Rahimahullahu Ta'ala wa askanahu fasiha jannatih, amin.
Allahua'lam

Gunung Sempu, Ramadhan 1433 H
Ibnu Marwadi Al-Marwadi
'afallahu 'anh

Refrensi:
1. Al-Mukhtashar Min Kitab Nasyr An-Nur waz-Zuhar fi Tarajim Afadhil Makkah min Al-Qarnil 'Asyir ilal Qarn Ar-Rabi' 'Asyar karya Syaikh 'Abdullah Mirdad Abul Khair -Qadhi Makkah wafat th. 1343 H- ikhtishar, tartib, dan tahqiq Muhammad Sa'id Al-'Amudi & Ahmad 'Ali edisi refisi cet. ke-3 tahun 1406 H/ 1986 M. Jeddah KSA: 'Alimul Ma'rifah lin Nasyr wat Tauzi'
2. Siyar wa Tarajim Ba'dh 'Ulamaina bil Masjidil Haram karya Ustadz 'Umar 'Abdul Jabbar
3. Kamus Al-Munawwir karya Ustadz Ahmad W. Munawwir tashih Ustadz 'Ali Ma'shum & Ustadz Zainal 'Abidin Munawwir. Edisi Ke-2.

Firman Hidayat, Gunung Sempu

:: 'Abdul Ghani Al-Bimawi Al-Jawi ::


Pendatang di Tanah Haram. Lahir di negeri asalnya, Bima NTB. Mengenai di tahun berapa Al-Bimawi dilahirkan, tidak ada keterangan yang meyakinkan atau bahkan tidak ada ketarangan sama sekali dari para muarrikh yang menyajikan biografi Syaikh Al-Bimawi. Al-'Allamah 'Abdussattar Ad-Dahlawi As-Salafi, misalnya, tidak menyebutkan sama sekali di tahun berapa Al-Bima

wi dilahirkan. Demikian pula dengan penulis Nasyr An-Nur wa Az-Zuhar, Syaikh 'Abdullah Mirdad Abul Khair, ia tidak mencatat tahun kelahiran Syaikh Al-Bimawi. Tapi yang jelas, Al-Bimawi dilahirkan di paruh abad ke-13 H.
'Abdul Ghani Bima kecil melawat ke Makkah dan belajar dari para ulama di sana seperti Al-'Allamah As-Sayyid Muhammad Al-Marzuqi dan saudaranya, Sayyid Ahmaq Al-Marzuqi -penulis 'Aqidatul 'Awwam-, Muhammad Sa'id Al-Qudsi -mufti madzhab syafi'i-, dan Al-'Allamah 'Utsman Ad-Dimyathi. Al-Bimawi banyak mengambil faidah dari para ulama ini.

Syaikh 'Abdul Ghani Al-Bimawi telah 'meluluskan' mayoritas ulama Jawa seperti Syaikh Ahmad Khathib bin 'Abdul Ghaffar As-Sambasi, Syaikh Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Bantani, pemilik karya-karya ilmiah seperti Tafsir Muroh Labid / At-Tafsir Al-Munir li Ma'alimit Tanzil, yang juga pendapat anugrah berupa gelar 'Sayyid Ulamail Hijaz' dari Negeri Taimur, sebagaimana yang dicatat oleh Ustadz Khairuddin Az-Zirikli [Az-Zarkali] dalam kamus tarajimnya, Al-A'lam. Al-Bimawi senantiasa menyibukkan diri dengan mengajar, ibadah & menulis sampai Allah datang ketetapan pada tahun 1270-an H di Makkah. Dan dimakamkan di Ma'la.

Di tengah kesibukannya di Makkah, Al-Bimawi ternyata tidak lantas melupakan negeri asalnya. Ia menyempatkan diri untuk mengadakan perjalan ke Jawa dan tinggal di sana beberapa waktu.

Sebenarnya ada keterangan lebih lengkap lagi dari perjalanan Al-Bimawi, yaitu dalam 'Ensiklopedi Ulama Nusantara', akan tetapi buku ini banyak diwarnai dengan dugaan-dugaan yang tidak jelas kebenarannya. Lebih jauh, penulis buku ini tidak menyebutkan refrensi satu pun.

Oleh karena itu, untuk sementara keterangan perjalanan Syaikh Al-Bimawi saya cukupkan sampai di sini dulu. Allahu Ta'ala a'lam

Catatan:
Dalam sejarah sebelum Indonesia memerdekakan diri, istilah ' Negeri Jawa' disematkan tidak saja Pulau Jawa yang ada sekarang, namun lebih luas dari itu. 'Jawa' di kala itu, mencakup semua negeri-negeri di Asia Tenggara. Seperti halnya juga dengan istilah 'Nusantara' & 'Melayu'. Kenyataan ini sama persis dengan istilah 'Syam' di Timur Tengah yang dahulu mencakup beberapa negara seperti Palestina, Mesir, Suria dll. Allahua'lam.

Refrensi:
1. Faidhul Malikil Wahhabil Muta'ali bi Anba'i Awail Qarn Ats-Tsalits 'Asyar wa At-Tawali karya 'Abdussattar bin 'Abdul Wahhab Ad-Dahlawi (1286-1355 H)
2. Al-Mukhtashar Min Nasyr An-Nur wa Az-Zuhar hal. 262 karya 'Abdullah Mirdad Abul Khair (wafat 1343)
3. Ensiklopedi Ulama Nusantara hal. 18.
Lebih lanjut lihat pula A'lamul Makkiyyin (1/ 332) & Nazhmud-Durar hal. 131

Firman Hidayat, 26 Agustus 2012, Gunung sempu

.:: Hakim Batupahat & Staf Pengajar di Masjid Al Haram, Syaikh Ahmad Qasati Al Indunisi Al Makki ::.


Beliau bernama lengkap Ahmad bin Yusuf Qasati Al Indunisi Al Makki rahimahullah. Lahir tahun 1296 H dan wafat tahun 1367 H.

Syaikh Ahmad Qasati berperawakan pendek, jisimnya sedang-sedang (tidak terlalu kurus juga tidak teramat gemuk), terkenal dengan ketawadhuannya serta tenang (santai) dalam berbicara & menyampaikan pelajarannya.


Dari ulama-ulama Masjid Al Haram Ahmad Qasati menimba ilmu, seperti:
1. Syaikh 'Umar As Sumbawi
2. Syaikh Muhammad 'Ali Balkhiyur
3. Syaikh Shalih Bafadhal
4. Syaikh 'Umar Bajened
5. Al 'Allamah 'Abdus Sattar bin 'Abdul Wahhab Ad Dahlawi Al Makki -penulis kitab tarajim Faidhul Malikil Wahhabil Muta'alai, dan Kasyful Ghummah fi Takhrij-

Stelah lolos pengujian untuk izin mengajar, Syaikh Ahmad Qasati memilih untuk kembali ke Indonesia pada tahun 1320 H dan mendirikan Madrasah As Saqqaf tahun 1327 H kemudian Madrasah Al 'Aththas tahun 1331 sekaligus mengepalainya.

Pada tahun 1338, Syaikh memegang jabatan kehakiman di Batupahat kemudian melepaskannya dan kembali ke Makkah pada tahun 1349 H.

Syaikh Ahmad Qasati mulai mengadakan halaqah ilmu di Masjid Al Haram, kemudian dipilih menjadi staf pengajar di Madrasah Darul 'Ulum -yang dirintis oleh Sayyid Muhsin bin 'Ali Al Musawa Al Falimbani rahimahullah-. Dari beliau, para santri mempelajari Adab 'Arab (sastra), fikih, dan hadits.

Syaikh Ahmad bin Yusuf Qasati rahimahullah tidak mencukupkan diri dengan hanya mengajar, akan tetapi juga beliau menekuni dunia penerjemahan buku-buku berharga (dari bahasa 'Arab) ke dalam bahasa Melayu. Di antara hasil terjemahaan beliau yang paling unggul adalah tarjamah kitab "Thowali'ul Huda wal Fashl bi Tahdziril Muslimin 'anil I'lam bi Waqtish Shalah bi Dharbin Naqus awith Thibl" (tentang larangan menabuh & memukul begug ketika datang waktu shalat) karya Syaikh Muhammad 'Ali bin Husain Al Maliki rahimahumallah.

Pada tahun 1354 H Syaikh Ahmad Qasati mulai menerjemahkan kitab Tafsir Al Jawahir karya Syaikh Thanthawi Jauhari, akan tetapi sebelum akhirnya selesai beliau sudah berpulang keharibaan Rabb-nya. Rahimahullah wa askanahu fasiha jannatih. Allahua'lam. []

Siyar wa Tarajim Ba'dhi 'Ulamaina fil Qarnir Rabi' 'Asyar lil Hijrah hal. 54 karya Syaikh 'Umar bin 'Abdul Jabbar Al Makki rahimahullah.

A'lamul Makkiyyin oleh 'Abdullah Al Mu'allimi


Firman Hidayat, Gunung sempu

.:: Syaikh Muhammad Baqir bin Muh. Nur Al Jugjawi Al Jawi Asy Syafi'i ::.




Di antara sederet ulama Jawah yang mempunyai halaqah ilmu di Masjid Al Haram adalah Al 'Allamah Syaikh Muhammad Baqir bin Muhammad Nur bin Fadhil bin Ibrahim bin Ahmad Al Jugjawi Al Jawi Al Indunisi Asy Syafi'i kemudian Al Makki rahimahullah. Dilahirkan di kota gudeg, Yogyakarta, pada tahun 1305 H.

Di usianya yang masih tergolong sangat muda, Baqir Al Jugjawi sudah berani melawat ke Makkah dalam rangka

.:: Juhud [Usaha] Syaikh Muhammad Al Banjari (1122- 1227 H) dalam Memberantas 'Aqidah Sesat & Wihdatul Wujud ::.



 
A. Muqaddimah

Di antara sekian banyak faham sesat yang menjangkit di Nusantara adalah faham shufi ekstrim macam wihdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti. Memang faham ini sekali-kali tidak pernah diajarkan oleh Islam, akan tetapi ia berasal dari ajaran Hindu-Budha atau filsafat Yunani yang kemudian 'dibajak' ke dalam Islam. Karena sesatnya yang begitu jauh, sehingga faham ini pu banyak membuat resah ditengah masyarakat termasuk yang terjadi di Kasultanan Banjar abad ke-12 H sehingga membuat sulthan merasa harus bertindak tegas menghadapi kenyataan semacam ini. Ketegasan sulthan dibuktikan

:: Juhud [Usaha] Syaikh Muhammad Al Banjari (1122- 1227 H) dalam Memberantas 'Aqidah Sesat & Wihdatul Wujud ::

Written By Unknown on Sabtu, 29 September 2012 | 18.50

 
A. Muqaddimah

Di antara sekian banyak faham sesat yang menjangkit di Nusantara adalah faham shufi ekstrim macam wihdatul wujud atau manunggaling kawulo gusti. Memang faham ini sekali-kali tidak pernah diajarkan oleh Islam, akan tetapi ia berasal dari ajaran Hindu-Budha atau filsafat Yunani yang kemudian 'dibajak' ke dalam Islam. Karena sesatnya yang begitu jauh, sehingga faham ini pu banyak membuat resah ditengah masyarakat termasuk yang terjadi di Kasultanan Banjar abad ke-12 H sehingga membuat sulthan merasa harus bertindak tegas menghadapi kenyataan semacam ini. Ketegasan sulthan dibuktikan dengan memberikan hukuman mati kepada penganutnya atas fatwa Syaikh Al Banjari.

B. Biografi Ringkas
Ulama kenamaan asal Banjarmasin ini bernama lengkap Muhammad Arsyad bin 'Abdullah Al Banjari Asy Syafi'i rahimahullah. Lahir pada 13 Shafar 1122 H di Luk Gabang, Kec. Astambul, Kab. Banjar, Kaltim dari rahim seorang Fathimah.

Al Banjari belajar sekitar 30 th. di Makkah, 5 th. di Madinah, dan beberapa waktu di Mesir bersama tiga shahabatnya yang juga berasal dari Nusantara, 'Abdush Shomad Al Falimbani, 'Abdurrohman Al Batawi, dan 'Abdul Wahhab Al Bughisi. Beberapa tahun sebelum ia kembali ke Nusantara, diriwayatkan dia sudah mengajar santri-santri di Masjid Al Haram dan berfatwa.

Di antara guru-gurunya Al Banjari adalah:
1. Muhammad bin Sulaiman Al Kurdi
2. 'Athoullah
3. Muhammad bin 'Abdul Karim Al Marani
4. 'Abdurrahman bin 'Abdul Mubin Pauh Bok Al Fathani
5. Muhammad Zain bin Faqih Jalaluddin Aceh
6. Al Musnid Muhammad 'Aqib bin Hasanuddin Al Falimbani
Setelah sekian lamanya melawat ke Timur Tengah dalam rangka thalabul 'ilmi, Al Banjari merasa terpanggil untuk berdakwah dan menyebarkan ilmunya di tanah kelahirannya. Di sini beliau diangkat sebagai qadhi & mufti Kerajaan Banjar yang memang tempat di mana ia dibesarkan.

Di antara karya tulis Syaikh Al Banjari adalah:
1. Sabilul Muhtadin lit Tafaqquh fi Amrid Din. Sebuah kitab fikih dalam bahasa Arab-Melayu. Kitab ini dicetak beberapa kali di Makkah -kemungkinan besar oleh Syaikh Ahmad Al Fathani-, Cairo oleh Mathba'ah Isa Al Halabi, Istanbul, Beirut oleh Darul Fikr, dan tentunya di beberapa daerah di Nusantara. Cetakan-cetakan yang beredar itu kebanyakan disertai tashih & sya'ir taqrizh (sanjungan) Syaikh Ahmad Al Fathani.
2. Kanzul Ma'rifah (Pebendaharaan Makrifat).
3. Tuhfatur Raghibin fi Bayani Haqiqah Imanil Mu'minin wa Ma Yufsidu min Riddatil Murtadin (Hadiah Buat Para Pecinta Berupa Penjelasan Hakekat Imannya Kaum Mukminin dan Apa yang Merusaknya). Ditulis th. 1180 H.
4. Al Qaulul Mukhtashar fi 'Alamatil Mahdil Muntazhar (Bahasan Ringkas Mengenai Tanda-Tanda Kedatangan Imam Mahdi yang Dinanti)
5. 'Ilmu Ushuliddin
6. Kitab An Nikah
7. Kitab Al Faraidh (Kitab Ilmu Waris)
8. Tuhfatul Ahbab
9. Hasyiyyah Fathul Jawwad karya Ibnu Hajar Al Haitami
10. Salinan Al Quran
11. Luqthotul 'Ajlan fil Haidh wal Istihadhoh wan Nifas wan Nisyan
12. Bulughul Marom

C. Juhudnya [Jasa] dalam Memberantas 'Aqidah Sesat & Menyimpang

Kasus yang terjadi pada diri seorang Al Hallaj, penganut faham wihdatul wujud, ternyata juga terjadi di beberapa tempat di Nusantara. Terlepas dari perdebatan sah tidaknya riwayat-riwayat itu, di daerah Banjar juga terjadi kasus serupa.

Alkisah, seorang penganut dan penyebar faham manunggaling kawulo gusti bernama Haji 'Abdul Hamid. Di antara faham yang ia ajarkan adalah, "Tiada maujud melainkan Dia, tiada wujud yang lainnya. Tiada aku, melainkan Dia dan aku adalah Dia..." Tentu ini adalah ajaran yang disebarkan oleh tokoh-tokoh sebelumnya seperti Al Hallaj, Abu Yazid Al Busthami, Ibnul Faridh, Ibnu 'Arabi (bukan Imam Abu Bakar bin Al 'Arabi Al Maliki penulis 'Aridhatul Ahwadzi syarh Jami' At Tirmidzi & Ahkamul Quran), dll.

'Abdul Hamid juga mengajarkan bahwa pelajaran yang selama ini dipelajari (baca: syariat) hanyalah kulit saja belum sampai tingkat isinya (baca: haqiqat). Tentu ini adalah salah satu ajaran menyimpang shufi yang membagi agama menjadi kulit & inti.

Ketika Haji 'Abdul Hamid dipanggil sulthan untuk menghadap, ia malah berkata, "Di sini tidak ada Haji 'Abdul Hamid, yang ada adalah Tuhan." Ketika suruhan kedua datang memanggil 'tuhan' supaya datang ke Istana, ia menjawab, "Tuhan' tidak bisa diperintah." Akhirnya, atas fatwa dan nasihat Syaikh Muhammad Arsyad bin 'Abdullah Al Banjari, Sulthan mengambil keputusan untuk menghukum mati Haji 'Abdul Hamid karena faham sesatnya yang sampai sedemikian jauh.

Di sini kita bisa lihat ketegasan fatwa Syaikh M. Arsyad Al Banjari dalam menyikapi kaum sesat dan menyimpang. Menurutnya, hal semacam ini sudah tidak perlu ada toleransi, kompromi, atau tawar-menawar lagi. Penganut semacam ini sudah tidak lagi layak untuk menginjakkan kakinya di muka bumi ini, terlebih jika ia sampai menyebarkannya di tengah kaum muslimin.

Bentuk lain yang dilakukan Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari rahimahullah dalam memberantas firqah bid'ah sesat adalah dengan menulis kitab Tuhfatur Raghibin. Di akhir pembahasan kitab ini, beliau menyebutkan (baca: mentahdzir)enam induk firqah sesat.

Syaikh Al Banjari rahimahullah berkata dalam kitabnya itu, "Hubaya-hubaya, hai saudaraku yang beriman! Wajib arasmu beri'tiqad dengan i'tiqad Ahlussunnah wal Jama'ah, yaitulah jalan Nabi Allah, shahabatnya, dan segala mereka yang mengikuti mereka itu hingga kiamat. Dan wajib atasmu menjauhi sekalian i'tiqad bid'ah yang sesat [seperti] i'tiqad kaum yang tujuh puluh dua (72) yang tersebut bilangan mereka itu di dalam hadits yang tersebut."

Setelah itu beliau menyebutkan gembong-gembong firqah sesat yang darinya. Beliau berkata, "[Kata] segala ulama Ahlussunnah wal Jama'ah, 'Bahwa kaum yang tujuh puluh dua (72) kaum itu asalnya enam (6) kaum jua, yaitu:
1. Kaum Rafidhah
2. Kaum Kharijiyyah
3. Kaum Jabariyyah
4. Kaum Qadiriyyah
5. Kaum Jahimiyyah
6. Kaum Murjiah

Refrensi:
Steenbrink, Karel A. 1984. Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19. Jakarta: Bulan Bintang
Azra, Azyumardi. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Al-Banjari, Muhammad Arsyad. Ttp. Tuhfatur Raghibin fi Bayan Haqiqah Imanil Mu'minin. Tidak diterbitkan
Dll.
Firman Hidayat, Gunung sempu
 
Support : Creating Website | |
Copyright © 2011. gunung sempu - All Rights Reserved
Template Created by Published by Khandar
Proudly powered by Blogger